Bintek B2SA Memfokuskan Pada Penganekaragaman Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal Untuk Mengurangi Ketergantungan Terhadap Beras dan Terigu
DISTAPANG - SEMARANG. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Drs Sapto Adi Sugihartono, MM. mengajak ibu-ibu Tim Penggerak PKK untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras dan terigu dalam pemenuhan karbohidrat.
Kamis, 7 Februari 2019 Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang menyelenggarakan Bintek Pengembangan Penganekaragamam Konsumsi Pangan B2SA (Beragam Bergizi Seimbang dan Aman). Dihadiri ibu-ibu Tim Pengerak PKK se-kota Semarang yang diwakili 2 orang tiap Kecamatannya. Bapak Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang, Drs. Sapto Adi Sugihartono,MM. dalam sambutan pembuka kali ini menyampaikan bahwa ketergantungan terhadap beras dan terigu -sebagai sumber karbohidrat- masih tinggi. Di sisi lain kota Semarang bukanlah kota pertanian tapi kota perdagangan dan jasa sehingga pemenuhan pangan sangat bergantung dari suply daerah di sekitarnya yang notabene merupakan wilayah pertanian. Jadi jika ketergantungan pada beras dan terigu tersebut tidak dikurangi maka bisa dibayangkan jika daerah pensuply mengalami ksisis produksi pangan beras maka warga kota Semarang akan mengalami krisis juga.
Untuk itulah Pak Sapto -panggilan akrab beliau- mengajak untuk membudidayakan, mengembangkan penganekaragaman pangan non-beras sebagai pemenuhan karbohidrat yang berbasis sumberdaya lokal, dalam hal ini beliau tertarik pada tanaman sukun. Dikarenakan sukun relatif lebih mudah ditanam di wilayah Semarang. Dalam Bintek B2SA kali ini, Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang menghadirkan narasumber dari BPSDMD (Badan Penembangan Sumber Daya Manusia Daerah) Prov. Jawa Tengah, Ir.Iman Kridarso M.Si. Narasumber dari Tim Penggerak PKK Semarang Ibu Sulistyoningsih Muthohar.
Bintek dimulai pukul 09:00 WIB, hingga pukul 13:00 WIB para peserta masih antusias mengikuti jalannya acara hingga acara pamungkas yaitu praktek membuat olahan pangan yang berbahan dasar sukun hingga pukul 15:00 WIB. Sukun diolah menjadi sebagai semacam nasi goreng. Melalui Bintek B2SA ini para peserta diharapkan mampu menjadi agen-agen perubahan untuk merubah pola pikir "Belum dinamakan makan jika belum pakai nasi" menuju penganekaragam pangan yang B2SA (bergagam bergizi seimbang dan aman) berbasis sumberdaya lokal, setidaknya dilingkup keluarga.







